Jenis Antioksidan dan Contohnya Hargabelanja.com
source: Canva

Mengenal Jenis Antioksidan dan Contohnya

Diposting pada

Ketidakseimbangan jumlah radikal bebas dengan jumlah antioksidan dalam tubuh dapat memicu berbagai penyakit. Oleh karena itu, Anda perlu mengonsumsi makanan kaya antioksidan guna mengurangi resiko tersebut. Bicara soal antioksidan, sudahkah Anda mengetahui jenis-jenis antioksidan dan contohnya?

Jika belum, maka Anda bisa menyimak pembahasan dalam artikel ini sampai tuntas. Antioksidan sendiri merupakan suatu senyawa yang bisa menyerap ataupun menetralisir radikal bebas. Antioksidan diperlukan tubuh untuk mencegah kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas terhadap sel normal, protein dan lemak.

Mengutip berbagai sumber, inilah beberapa jenis antioksidan dan contohnya yang cukup familier dan banyak diketahui.

Jenis Antioksidan

jenis antioksidan hargabelanja.com
via Canva

Enzim

Antioksidan bisa hadir dalam bentuk enzim. Mengutip Yankes Kemkes, enzim termasuk dalam kelompok atau jenis antioksidan. Enzim merupakan tipe antioksidan yang terdiri dari protein dan beberapa jenis mineral tertentu. 

Di dalam tubuh, biasanya enzim akan bersintesis. Namun, enzim membutuhkan koenzim untuk dapat berfungsi optimal. Koenzim atau rekan kerja tersebut berupa mineral seperti tembaga, zat besi, magnesium, selenium dan zinc. 

Kendati demikian, kualitas enzim yang diperoleh tubuh sangat dipengaruhi oleh kualitas makanan sumber protein yang Anda konsumsi. Jadi, agar tubuh memperoleh kualitas enzim yang baik maka Anda perlu memperhatikan asupan makan sehari-hari.  

Vitamin

Jenis antioksidan berikutnya adalah vitamin. Beberapa contoh antioksidan vitamin adalah  vitamin A, C dan E. Selain itu, antioksidan vitamin juga bisa berbentuk asam folat (vitamin B9) dan beta karoten.

Sebagian besar vitamin tidak diproduksi oleh tubuh manusia secara mandiri sehingga Anda perlu mendapatkannya dari makanan, minuman, ataupun suplemen. 

Fitokemikal

Jenis antioksidan yang berikut ini biasanya digunakan oleh tumbuhan untuk memproteksi dirinya dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Tak hanya bagi tumbuhan, antioksidan ini juga bisa diperoleh manusia dengan cara mengonsumsi sumber pangan nabati. 

Hanya, sebaiknya Anda memilih makanan yang bukan hasil pemrosesan karena jika makanan tersebut sudah diproses maka kandungan fitokemikal didalamnya cenderung sedikit atau berkurang banyak. 

Secara umum, fitokemikal terbagi menjadi beberapa kelompok, yakni flavonoid, karotenoid, polifenol dan alil sulfida. Penjelasan beberapa kelompok dan contoh antioksidan tersebut bisa Anda simak di bawah ini.

Berbagai Contoh Antioksidan

Flavonoid

Flavonoid merupakan salah satu contoh antioksidan. Ini merupakan sekelompok zat kimiawi yang mudah dijumpai pada sayuran, buah kaya antioksidan dan akar tumbuhan. 

Sebagai antioksidan, flavonoid dapat membantu melawan efek radikal bebas serta mengurangi peradangan. Beberapa studi juga menyebutkan bahwa asupan makanan tinggi flavonoid bisa membantu mengurangi resiko penyakit kanker, jantung, stroke dan diabetes. 

Seringkali, flavonoid dijumpai pada batang, daun, bunga dan buah-buahan. 

Makanan yang Mengandung Flavonoid

Beberapa makanan dan minuman yang kerap mengandung flavonoid adalah teh, rosella, cokelat hitam, kacang kedelai, asam jawa, bayam, brokoli dan buah kaya antioksidan. 

Baca Ini Juga  Bagaimana Cara Agar Tidak Iri? Ikuti Cara Ini!
Teh

Pada umumnya, teh mengandung flavonoid yang bisa berperan sebagai antioksidan alami guna menjaga tubuh dari efek radikal bebas. Kandungan flavonoid tersebut bermanfaat untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah. 

Selain itu, sebenarnya teh juga kerap mengandung jenis antioksidan lain seperti polifenol, Bahkan, teh juga menyimpan agen antimikroba yang bisa membantu melawan serangan sel kanker dan meredakan peradangan. 

Rosella

Mengutip alodokter, ekstrak rosella cukup efektif untuk mengurangi resiko kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, lever dan diabetes tipe 2. 

Tanaman ini mengandung berbagai senyawa kimia alami seperti fenol, flavonoid, alkaloid, saponin, asam organik dan vitamin C yang berperan penting sebagai antioksidan. Selain itu, kandungan tersebut juga bisa bekerja sebagai anti bakteri dan anti radang.

Cokelat Hitam

Cokelat hitam juga mengandung flavonoid. Bahkan, sekitar 10% kandungan cokelat adalah  flavonoid. Sayangnya, kandungan flavonoid dalam cokelat kerap berkurang jika cokelat sudah mengalami pemrosesan. 

Adapun, beberapa manfaat flavonoid pada cokelat adlah membantu menurunkan tekanan darah dan melancarkan peredaran darah, menurunkan kadar kolesterol, mendukung kesehatan jantung, menunjang fungsi otak dan membantu melindungi kulit dari sinar UV. 

Antosianin

Antosianin juga merupakan jenis atau contoh antioksidan. Sebenarnya, antosianin merupakan zat warna yang memicu warna merah, ungu, oranye, hijau dan biru pada tanaman. 

Sebagai senyawa turunan dari polifenol dalam kelompok flavonoid, antosianin memiliki beberapa manfaat yang baik untuk kesehatan, diantaranya adalah mencegah penyumbatan pembuluh darah, penyakit jantung, diabetes,  kanker, gangguan metabolisme serta membantu melawan infeksi, Senyawa ini juga memiliki pengaruh positif bagi kesehatan mata, otak dan saraf. 

Makanan yang Mengandung Antosianin

Beberapa makanan yang mengandung antosianin adalah anggur, tomat, delima, ketan hitam, paprika, kacang merah, buah beri dan lain sebagainya.

Anggur

Kandungan antioksidan antosianin dalam anggur cukup tinggi. Selain itu, anggur juga mengandung antioksidan resveratrol, vitamin C, beta karoten, lutein, likopen dan asam ellagic. Dikarenakan kaya dengan senyawa bermanfaat, maka anggur bisa mendukung kesehatan tubuh. 

Salah satu manfaat mengonsumsi anggur ialah melindungi penglihatan dari penyakit degeneratif yang umum. 

Tomat Ungu

Antosianin merupakan jenis antioksidan yang tidak dijumpai pada setiap jenis tomat. Namun, tomat ungu atau indigo rose memiliki kandungan tersebut. Mengonsumsi tomat ungu bisa membantu mengurangi resiko penyakit kanker dan mendukung kesehatan secara umum.

Rasa tomat ungu memang tidak semanis jenis tomat lain pada umumnya. Tetapi, tomat ini memiliki rasa gurih yang tak kalah lezat. Selain antioksidan, tomat ungu juga mengandung senyawa antibakteri dan antiradang alami yang bisa mendukung program diet. 

Baca Ini Juga  8 Ide Bisnis Rumahan yang Mudah untuk Memulainya
Delima

Buah delima juga kaya dengan jenis antioksidan antosianin. Buah yang identik dengan warna merah ini juga mengandung banyak nutrisi, seperti kalium, vitamin C, zat besi, vitamin B6 dan magnesium. 

Jika mengonsumsi buah delima, maka Anda bukan hanya mendapat asupan antioksidan. Tetapi, Anda juga bisa mengurangi resiko arthritis, nyeri sendi, dan meningkatkan kekebalan tubuh. 

 

Beta-karoten

Beta karoten juga termasuk contoh antioksidan. Jenis antioksidan yang berikut ini dikenal berperan penting dalam mendukung kesehatan mata, kulit dan organ reproduksi. 

Selain itu, beta karoten juga sangat baik untuk daya tahan tubuh sehingga tubuh tidak mudah terserang infeksi. Di dalam tubuh, biasanya beta karoten akan diolah menjadi vitamin A. 

Makanan yang Mengandung Beta karoten

Sebagian besar beta karoten terdapat pada buah-buahan dan sayuran yang berwarna jingga, merah dan kuning. Contohnya seperti labu, wortel, ubi, pepaya, tomat, buah kawista, semangka, buah bit dan cabai. 

Labu 

Labu biasanya mengandung komponen beta karoten seperti zeaxanthin, lutein dan karoten. Selain memberikan warna kuning pada labu, beta karoten juga bermanfaat untuk melindungi sel dan jaringan tubuh melalui cara menetralisir molekul oksigen jahat (radikal bebas).

Beta karoten pada labu juga memiliki pengaruh imunomodulator dan mengendalikan respon interselular lewat celah di antara membran sel. Alhasil, daya tahan tubuh (imunitas) pun meningkat.

Wortel

Jenis antioksidan beta karoten juga dijumpai pada wortel. Kandungan ini bermanfaat untuk menghambat penuaan pada otot mata sehingga mencegah kebutaan di usia senja. Selain itu, wortel juga mengandung vitamin A yang membantu menjaga kejernihan kornea dan menjadi komponen penting dalam sel-sel retina. 

Cabai

Cabai juga merupakan makanan sumber beta karoten. Kadar beta karoten pada cabai merah besar bisa mencapai sekitar 10,54 0,07 mg per 100 gram. Selain itu, cabai juga mengandung protein, karbohidrat, serat, gula, vitamin A, B6 dan C yang baik untuk tubuh. Menariknya, cabai juga mengandung capsaicin yang merupakan senyawa bioaktif yang dapat berperan sebagai rasa pedas sekaligus anti inflamasi.

Likopen

Likopen adalah contoh antioksidan yang banyak dijumpai pada buah-buahan dan sayuran  berwarna terang seperti semangka, tomat, jeruk bali, jambu merah dan pepaya. Seperti halnya jenis antioksidan yang lain, likopen juga memiliki beberapa manfaat yang baik untuk kesehatan. 

Mengonsumsi makanan yang mengandung likopen bisa membantu menurunkan resiko kanker tertentu, mencegah kerusakan kulit, meningkatkan fungsi otak dan mendukung kesehatan mata. Selain itu, likopen juga turut berperan dalam meningkatkan kekuatan tulang. 

Makanan yang Mengandung Likopen

Semangka

Semangka merupakan salah satu buah yang mengandung jenis antioksidan likopen. Buah ini dapat mengandung sebanyak 6,9 mg likopen per buah. Selain likopen, semangka juga mengandung vitamin A dan C yang cukup banyak. 

Baca Ini Juga  Game Nomor 1 di Indonesia Terbaik dan Terpopuler

Kandungan serat pada buah semangka juga cukup tinggi sehingga dapat membantu melancarkan pencernaan. Selain itu, buah semangka turut mengandung beragam mineral seperti kalium, natrium, sodium, dan banyak lagi yang lainnya. 

Jeruk Bali

Jeruk Bali pun mengandung likopen. Mengutip Kompas, kadar likopen dalam buah jeruk bali adalah sekitar 350 mikrogram per 100 gram buah jeruk bali.  Jika berkombinasi dengan betakaroten yang jumlahnya cukup banyak dalam jeruk bali, maka likopen bisa berperan sebagai antioksidan. 

Mengonsumsi jeruk bali secara rutin dapat membantu menurunkan kolesterol, meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan berat badan, melancarkan BAB ( Buang Air Besar). 

Jambu Merah (Jambu Biji)

Buah lainnya yang mengandung jenis antioksidan likopen adalah jambu merah. Mengutip Kompas, kandungan likopen pada buah jambu biji lebih mudah diserap tubuh karena keunikan dalam struktur selnya. 

Konsumsi buah ini dapat membantu menurunkan resiko kanker prostat pada pria dan mengobati diare, batuk dan flu. Selain itu, buah ini juga baik untuk kesehatan kulit.

Polifenol

Contoh antioksidan yang berikutnya adalah polifenol. Antioksidan ini juga menawarkan beberapa manfaat seperti membantu menurunkan kadar gula darah dan mengurangi resiko kanker, jantung dan stroke. Selain itu, polifenol juga membantu mempertahankan kesehatan pencernaan dan fungsi otak. 

Anda bisa memperoleh asupan polifenol melalui konsumsi makanan dan minuman kaya antioksidan seperti teh, kopi, cokelat hitam, buah beri, anggur, brokoli, bayam, wortel, kecambah (tauge), kacang kedelai, kayu manis, cengkeh, lada hitam, jahe dan jinten.

Makanan yang Mengandung Polifenol

Brokoli

Brokoli mengandung jenis antioksidan polifenol yang bisa membantu mengobati infeksi dan menurunkan resiko hipertensi, diabetes serta kanker. Tak cuma polifenol, brokoli juga mengandung mineral seperti kalium, protein, vitamin C, zat besi, vitamin B6 dan magnesium yang baik untuk menunjang kesehatan tubuh.

Kopi

Polifenol juga terdapat pada kopi. Oleh karena itu, kopi sangat baik untuk kesehatan, dengan catatan kopi harus dikonsumsi secara wajar dan tidak ada reaksi alergi pada tubuh. Salah satu manfaat minum kopi, yakni dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

Itulah beberapa jenis antioksidan dan contohnya. Siapa sangka ternyata asupan antioksidan mudah dijumpai di sekitar kita. Jadi, ayo perbanyak konsumsi makanan kaya antioksidan!