Ciri karya fiksi.| Unsplash.com
Ciri karya fiksi.| Unsplash.com

Inilah Ciri Karya Fiksi, Kamu Wajib Tahu!

Diposting pada

Salah satu ciri karya fiksi yang paling menonjol adalah imajinatif. Selain itu, karya ini merupakan jenis tulisan yang sudah pasti tidak asing lagi didengar. Bagaimana tidak? Karya jenis ini sudah diperkenalkan sejak SD sebagai salah-satu pengantar bahan ajaran Bahasa Indonesia.

Karya fiksi ini dinilai mampu melatih kreatifitas anak-anak dan mengaktifkan kemampuan berimajinasi mereka dengan baik. Selain itu, cerita fiksi memiliki stimulasi kata-kata yang dapat mempengaruhi sikap anak berdasarkan sudut pandang mereka.

Ciri Karya Fiksi

Ciri karya fiksi.| Unsplash.com
Ciri karya fiksi.| Unsplash.com

Sebagaimana sedikit ulasan diatas, berdasarkan praktiknya sendiri karya fiksi memiliki beberapa ciri perbedaan dengan jenis tulisan lain. Hal ini karena fiksi merupakan karya yang bersifat rekaan tetapi sarat akan moral serta penyampaian perasaan. Ciri dan karakternya sangatlah kuat, sehingga fiksi termasuk ke dalam klasifikasi sastra dengan kekhasannya. Adapun ciri-cirinya sebagai berikut :

1.      Bersifat Imajinasi

Dapat dinilai sebagai karya fiksi jika sebuah karya tersebut jika dalam ceritanya memang bersifat imajinatif. Sifat tersebut bisa diketahui dari penggunaan diksi dan alur karya yang tidak menampakkan kebenaran secara mutlak.

Baca Ini Juga  Cara Membuat Piscok Lumer Crispy yang Enak untuk Jualan

Semua yang terkandung dalam ceritanya dibuat-buat meski beberapa tempat, suasana, kejadian, bisa saja terjadi di kehidupan nyata. Akan tetapi dalam karya fiksi tersebut cenderung dilebih-lebihkan atau dikurangi.

2.      Kebenarannya hanya Relatif tetapi Tidak Mutlak

Alur karya fiksi bukan yang sebenar-benarnya. Hal ini berkaitan dengan ide yang mungkin saja didapat dari hasil melihat suatu hal yang fakta. Namun, untuk keaslian karya hanya menuliskan sudut pandang sebagaimana akan hal tersebut terjadi.

Dengan demikian yang terjadi secara nyata tidak akan sama di dalam sebuah karya fiksi. Adegan-adegan bisa dirubah sebebasnya pengarang pada satu latar yang sama.

3.      Bahasa yang Digunakan adalah Sugestif (Konotatif)

Untuk kata-kata yang terdapat dalam sebuah karya fiksi sendiri umumnya bersifat sugestif. Penggunaan bahasa yang tidak baku, sehingga sebebasnya dapat mengekspresikan kata-kata tanpa menghiraukan batasan PUEBI.

Selain itu, karya fiksi kaya akan gaya bahasa yang bersifat indah. Majas-majas yang digunakan mempercantik rangkaian kata pada alur tertentu untuk menambah kesan dramatis.

Baca Ini Juga  3 Karbohidrat Pengganti Nasi

4.      Bernilai Emosi bukan Logika (Sistematika Tidak Baku)

Karya fiksi tidak memuat informasi secara khusus mengenai suatu fakta penting yang ingin disampaikan kepada pembaca. Justru lebih ke pemahaman tentang sesuatu berdasarkan keinginan pembaca yang disampaikan oleh pengarang.

Dengan begitu, hal-hal yang dapat dirasakan bersifat keemosionalan. Meskipun dalam karya fiksi tidak boleh menyepelekan kerasionalan yang bersifat logika karena kecacatan berkarya sangatlah tidak elok.

5.      Adanya Pesan Moral

Karya fiksi pasti memiliki pesan moral, suatu nilai yang dapat diambil ibrahnya oleh pembaca. Oleh karena karya fiksi dibuat sesuai keresahan pengarang yang di mana pasti terdapat sesuatu pesan tersirat maupun tersurat.

Kejadian sekitar yang mengundang pengarang untuk berpikir tentang bagaimana karya bisa menjadi jawaban atau sekedar penyalur perasaan. Hal ini tanpa disadari mengajak pembacanya juga untuk mengetahui perasaan atau meyakini jawaban tersebut.

6.      Menampilkan Sudut Pandang Berbeda

Karena karya fiksi bukan cerita yang memuat kebenaran artinya fiksi ini memuat hal baru. Sudut pandang yang ditampilkan pasti memiliki perbedaan. Sebagaimana sifatnya yang imajinatif, pengarahan latar pun akan mengikuti. Sehingga penafsiran pembaca dan pengarang terhadap cerita tidak akan sama.

Baca Ini Juga  Wisata Alam Brebes, Mana Favoritmu?

Dengan demikian itulah ciri karya fiksi yang wajib kamu tahu, agar dapat membedakan jenis-jenis tulisan. Karya fiksi secara garis besar bisa dikatakan sebagai karya yang didapat dari khayalan (imajinasi).