Support dan resistance dalam trading
Support dan resistance dalam trading

Memahami apa itu support dan resistance masih menjadi hal yang sulit bagi sebagian orang. Apalagi jika harus mengaplikasikannya dalam kegiatan trading. Namun demikian, kita tidak boleh jadi pusing karenanya. Pada dasarnya yang kita lakukan dalam trading seharusnya cukup sederhana, yakni membeli aset saat harganya murah, lalu menjualnya ketika harga sedang tinggi.

Bagi banyak investor, khususnya pemula, proses trading lebih mirip dengan kegiatan tebak-tebakan. Pilih angka ganjil atau genap, makanya banyak yang rugi akhirnya. Nah, salah satu strategi paling dasar dan mudah untuk kita pahami agar dapat membantu kesuksesan trading adalah dengan mengidentifikasi level support dan resistance suatu aset.

Setelah kamu dapat mengetahui mana level support dan resistance, maka otomatis kamu juga dapat menentukan waktu yang tepat untuk membeli atau menjual. Support dan resistance juga membantu selama pasar bullish, bearish, maupun range-bound.

Apa itu Support dan Resistance Dalam Trading

Agar bisa lebih mahir dalam melakukan perdagangan aset, baik saham, forex, maupun cryptocurrency. Mari kita luangkan waktu sejenak untuk memahami apa itu support dan resistance secara lebih mendalam.

Istilah Support dalam Trading

Support terbentuk pada tingkat di mana permintaan dari pembeli lebih banyak dan menghabiskan aset dari penjual. Sehingga dapat mencegah harga turun lebih jauh. Pada level ini, pedagang bullish cenderung membeli karena mereka yakin harga cukup menarik dan mungkin tidak akan turun lebih jauh.

Di sisi lain, pemilik aset berhenti menjual karena mereka percaya pasar telah cukup jatuh dan mungkin karena rebound. Ketika kedua situasi ini terjadi, titik support terbentuk.

Contoh support dalam trading

Grafik di atas adalah contoh dari support yang kuat. Setiap kali harga EOS turun ke level $2,33, pembeli muncul dan penjualan berkurang. Hal ini menyebabkan permintaan melebihi persediaan aset yang ada, sehingga terjadi rebound.

Meskipun support horizontal dianggap lebih meyakinkan, itu bukan satu-satunya cara support terbentuk. Selama tren naik, garis tren bertindak sebagai support.

contoh support dalam trading

Contoh kedua, Litecoin (LTC) memulai kenaikannya pada bulan Desember 2020. Setelah itu, harga rebound dari garis tren pada beberapa kesempatan. Ini terjadi karena ketika harga mendekati garis tren, pembeli akan tetap membeli, mereka percaya bahwa harga LTC terhadap USDT telah mencapai level yang menarik untuk dibeli.

Pada saat yang sama, pedagang kontra-tren berhenti menjual, dengan asumsi bahwa jangka pendek mungkin oversold. Kedua hal tersebut terjadi pada saat yang bersamaan. Sehingga menyebabkan koreksi berakhir dan uptrend kembali berlanjut.

Istilah Resistance Dalam Trading

Resistance dapat dianggap sebagai kebalikan dari support. Karena ini adalah level di mana penawaran melebihi permintaan, sehingga menghentikan pergerakan naik. Resistance terbentuk ketika pembeli yang telah membeli di level yang lebih rendah mulai menarik keuntungannya. Ketika jumlah aset yang dijual melebihi permintaan beli, tren naik berhenti dan berbalik arah.

contoh resistance dalam trading

Support atau resistance tidak perlu satu level. Grafik di atas menunjukkan bagaimana area antara $10.500 hingga $11.000 bertindak sebagai zona resistance. Setiap kali harga mencapai zona ini, trader jangka pendek menarik keuntungannya.

contoh resistance dalam trading

Mirip dengan support, garis atau zona resistance tidak harus selalu horizontal. Selama penurunan dari 6 Mei 2018, hingga 4 Juli 2018, Ether (ETH) berjalan terus ke garis resistance, juga disebut garis downtrend. Ini karena trader yang memiliki pemikiran bearish menggunakan aksi jual besar-besaran untuk mengantisipasi level yang lebih rendah.

Pada saat yang sama, trader yang membeli pada saat penurunan tajam menutup posisi mereka di dekat garis resistance. Oleh karena itu, garis bertindak sebagai dinding dan harga turun semakin dalam.